SPAIN TRIP: First Day (Barcelona)
Perjalanan ke Spanyol.. Belum pernah saya bermimpi bisa melakukannya, bahkan dalam mimpi. Tapi berkesempatan utk sekolah di Eropa membangunkan imajinasi dan impian saya utk mengeksplor Eropa lebih banyak. Menjelajah Spanyol dalam waktu 6 hari, terpilih 5 kota yang dikunjungi: Barcelona, Granada, Seville, Cordoba, dan Madrid. Kota2 dengan ikon turis yang beragam, sebagian saya dan teman2 pilih karena alasan historis yang berkaitan dengan perkembangan penyebaran Islam di jamannya. Saat Islam masih menjadi agama bangsa yang terkenal dengan sebutan Andalusia.. Begitu banyak imajinasi tentang Alhambra, Mezquita, dan beberapa bangunan bersejarah yang harus saya kunjungi. Bangunan2 yang awalnya saya ketahui juga dari sebuah buku catatan perjalanan Hanum Rais, 99 Cahaya di Langit Eropa..
Hari pertama, 17 Desember 2011
Perjalanan dimulai dari Gent sejak sebelum subuh, jam 5 pagi saya dan teman2 bergegas keluar asrama dengan membawa bekal yang telah dipersiapkan sebelumnya, menuju stasiun untuk mengejar kereta ke Brussel jam 5.24. Tiket sudah didapat sejak sebelumnya, jadi kami tidak perlu membeli tiket dahulu. Bergegas menuju tempat menunggu kereta sesuai yang terlihat dipapan jadwal keberangkatan. Karena tidak ada kereta langsung menuju Bandara yang kami tuju, kami harus turun di Brussel Zuid dan menaiki kereta kedua menuju Charleroi Sud.
Sekitar pukul 7 kami sampai di sana, langit masih gelap, stasiun masih sepi. Salju sudah terlihat menutupi sebagian jalanan dan mobil yang diparkir di pelataran. Menurut informasi kami harus menaiki autobus menuju bandara Charleroi. Bukan perjalanan yang pendek memang.. Setengah 8 kami menaiki autobus, tidak membutuhkan waktu terlalu lama lalu kami sampai di Charleroi airport. Jadwal keberangkatan pesawat kami menuju Barcelona adalah 09.00. Masih ada waktu 1 jam lebih, tapi pemeriksaan visa, passport, tas dan calon penumpang sudah dibuka. Kami langsung menyiapkan tiket dan passport. Dalam 15 menit kami lolos pemeriksaan, lalu menunggu untuk check in pesawat jam 08.40. Sembari menunggu saya dan teman2 lalu shalat subuh dulu. Antri untuk check in, dan akhirnya kami siap untuk penerbangan Brussel-Barcelona.
Selama perjalanan, kami sesekali tidur dan terbangun menikmati perjalanan. Pukul 11 kami sampai di Barcelona. Excited dan senang, tidak sabar kami ingin segera menjelajah bagian bumi yang satu ini.
Kami sudah ada janji dengan Mas Arinto, seorang kenalan yang sedang studi di Barcelona, studi masternya kedua. Dia yang berbaik hati akan mengantarkan kami menuju pusat kota. Untuk sampai di pusat kota, kami harus naik kereta. Lalu kami memutuskan untuk menitipkan bawaan kami di loker room stasiun. Mengurangi beban bawaan yang memang cukup berat. Setelah menitipkan barang, kami bergegas menuju city center menaiki metro subway. Sesampai di city center, tmpat yang pertama kami kunjungi adalah gereja katedral besar. Tidak masuk, hanya melihat dan memotret dari luar.
Lalu kami berjalan menuju La Rambla, pusat pertokoan jalanan yang terkenal dengan keindahan view nya. Perjalanan ini menjadi awal pengalaman buruk saya di Barcelona. Sebuah kebodohan dan keteledoran yang membuat ada tangan jahil mengambil kesempatan untuk mencuri bekal uang yang saya bawa. Saat kami berjalan di Carel de mayo, mas Arinto yang memang membawa peta saat itu didekati oleh seorang pria bule. Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai turis dari Itali dan menanyakan arah pada mas Arinto. Saat mas Arinto menjelaskan peta pada pria tadi dan kami menunggu di sebelah mereka, datang dua bapak2 mendekati kami. Mereka mengaku sebagai polisi yang mencurigai laki-laki turis tadi sebagai penyalur kokain dan uang palsu. Setelah menunjukkan ID mereka kemudian memeriksa dompet lelaki turis tadi. Lalu berganti memeriksa dompet mas Arinto, dan kami semua.
Tapi diantara kami, bodohnya hanya saya yang dengan polos jujur menunjukkan dompet saya pada mereka. Saya mengira mereka memang polisi, dan saya melihat mas Arinto pun menunjukkan dompetnya dan tidak terjadi apa2. Salah satu dari dua bapak itu membuka dompet saya dn mengatakan harus memeriksa uang saya siapa tau palsu. Saya yang memang mnyimpan uang bekal cukup banyak di dompet ternyata menjadi sasaran empuk mereka. Entah bagaimana caranya mereka dengan cepat mngambil tiga lembar pecahan uang 50 euro saya dan 2 lembar uang 10 dolar.
Gila memang. Saya baru menyadari uang saya tidak ada setelah berjalan sekitar 5 meter menjauhi mereka. Setelah sadar ada yang tak beres, saya dan mas Arinto berlari ke tempat kami dicegat tadi, memang copet profesional, mereka sudah menghilang entah ke arah mana. Saya memeriksa lagi dompet dan tas kecil yang saya bawa, uang itu tidak ada. Tapi kartu2 dan passport masih terjaga aman, syukurlah. Di saat seperti ini apa lagi yang bisa dilakukan selain merasa bersyukur, karena kalau dokumen2 saya hilang otomatis urusan menjadi lebih runyam dan saya harus melewati prosedur sulit agar bisa kembali ke Belgia.
Mas Arinto mengontak temannya, lalu mengajak saya mnuju kantor polisi di dekat kawasan La Rambla.
Maaf teman2, suasana liburan kita terganggu dengan insiden ini. Terima kasih sudah menghibur saya saat itu yang memang menurut saya manusiawi merasa sedih, kesal dan benci pada tiga komplotan copet tadi. Setelah sampai di kantor polisi, kami diberi arahan oleh seorang polisi untuk lebih berhati-hati ke depannya (tips saat berwisata untuk mengantisipasi copet akan saya post di bagian lain). Dia memberikan copy passport kami utk pengganti passport kami sebagai identitas diri agar kami tidak usah membawa passport asli kemana-mana.
Kami menuju kantor polisi kedua utk mmbuat report kehilangan, tapi ternyata bukan hanya saya seorang yang mengalami pencopetan, ada banyak turis lain sehingga polisi membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan satu demi satu pelaporan. Polisi yang saya temui di sini tidak bisa berbahasa Inggris, jadi kami dibantu oleh seorang petugas turis informasi.
Kami harus kembali ke sana jam 6 sore karena mereka sedang menangani banyak pelaporan lain. Saya dan teman2 memutuskan untuk berjalan2 dulu ke beberapa tempat dan membeli souvenir. Saya tidak mau merusak liburan kami, jadi saya tidak boleh bersikap sedih terus, saya mencoba untuk melupakan sejenak kejadian siang tadi. Sebagai pegangan, mas Arinto meminjamkan uangnya pada saya (makasih banyak Mas). Jam stngh6 kami janji bertemu lagi dengan mas Arinto utk membuat laporan di kantor polisi. Memang uang saya tdk akan kembali dengan melapor pada polisi, hanya saja ada harapan kecil utk meminta travel insurance me-refund kehilangan saya (wlaupun hampir tidak mungkin). Saya harus menunggu panggilan hingga 2 jam untuk mengidentifikasi dan membuat report. Tapi akhirnya saya hanya meminta surat laporan kehilangan karena identifikasi harus dilakukan di kantor polisi sektor yang berbeda.
Terima kasih lagi pada Mas Arinto yang akhirnya harus kembali ke kantor polisi esok harinya utk mengenali wajah pencopet, karena saya harus melanjutkn perjalanan ke kota lain esok hari. Setelah laporan didapat, kami pergi berjalan2 ke sekitar La Rambla, berfoto, dan menikmati view malam di Barcelona. Jam stngh10 kami kembali ke stasiun untuk mengambil tas titipan tadi siang, dan melanjutkan ke bandara. Malam ini kami memang tidak menginap di hostel karena jam 7 pagi jdwl pesawat menuju Granada. Saat di metro kami sempat berurusan lagi dengan komplotan copet.
Saat duduk menunggu metro, ada lelaki tanpa bawaan apapun datang dan duduk di samping teman saya (Rany) yang memang posisinya paling pinggir. Lelaki itu saya perhatikan aneh gelagatnya, sepertinya copet. Dia memperhatikan Rany dari atas smpai bawah, depan belakang, seperti menganalisa peluang utk mencopet. Beberapa kali saya hampir ketauan sedang mengamati gerak-gerik lelaki itu. 3 menit kemudian dia berdiri dan berpindah duduk di sebelah mas Arinto yang memang posisinya paling pinggir juga. Saya terus mengikuti gerak lelaki itu. Memang benar ternyata, dia pun memperhatikan mas Arinto depan belakang atas bawah dn terutama tas yang dipakai mas Arinto. Metro pun datang, saya sudah yakin lelaki itu copet, saya memperingatkan mas Arinto. Ternyata kami terpojokkan, saat di pintu metro ada sejajaran laki2 yang saya yakin pasti komplotan lelaki tadi.
Dengan mata kepala saya sndiri saya melihat lelaki tadi saling berkode dengan gerombolan lelaki di pintu metro itu. Tidak prnh saya bayangkan, kami berlima (4 perempuan dan satu lelaki) dipojokkan oleh mereka di pintu metro. Mereka berusaha mendorong kami sambil merapatkan tubuhnya pada kami. Terlihat jelas tangan2 mereka yang mencoba nakal membuka sleting tas kami, satu per satu dri kami berhasil lolos dn membaur dgn penumpang lain, saya lolos hampir terakhir, sebelum mas Arinto. Ternyata dompet mas Arinto berhasil mereka ambil, tapi syukurlah mas Arinto sadar dan berusaha merebutnya lagi. Komplotan pencopet itu lalu keluar metro sambil berteriak2 entah apa saya tdk mengerti.
Kami lalu berkumpul dan berusaha saling menenangkan diri, kaki saya gemetaran beberapa menit. Masih belum sembuh kesal saya pada copet tadi siang, sekarang di hari yg sama kami harus menjadi incran copet lain lagi. Astaghfirullaah..
Perjalanan dari stasiun ke bandara yg ditempuh dengan kereta saya rasakan dengan was-was. Untung kami bertemu dengan sepasang suami istri bersama bayinya yg akan ke bandara juga. Stlh turun kereta, kami harus naik bis bandara menuju pintu keberangkatan. Sesampai di sana, kami duduk beristirahat dan memang berniat utk tidur. Sambil makan malam kebab yang dibelikan oleh Mas Arinto (terima kasih banyak lagi Mas). Sepertinya bandara adlh tmpt yang jauh lebih aman, petugas patroli bergantian. Kami berniat tidur bergantian, tapi ternyata tubuh kami tidak bisa bohong, kami semua tidur dengan menjaga bawaan masing2.
-BERSAMBUNG-
